Regula Fidei http://ejournal.uki.ac.id/index.php/regulafidei <div style="float: left; margin-right: 1em;"><img src="http://ejournal.uki.ac.id/public/site/images/administrator/regulafidei.png" alt=""></div> <p>Jurnal Regula Fidei merupakan jurnal yang mempublikasikan karya ilmiah dosen Program Studi Pendidikan Agama Kristen dengan sasaran terakreditasi Dikti. Jurnal Regula Fidei mencakup pemikiran-pemikiran teologis tentang Pendidikan Agama Kristen, Pendidikan, Pendidikan Agama Kristen (PAK) dalam Keluarga, Pendidikan Agama Kristen (PAK) bagi Anak, Pendidikan Agama Kristen (PAK) Remaja, Pendidikan Agama Kristen dalam Masyarakat Majemuk dan Postmodern.</p> <p>Jurnal Regula Fidei terbit 2 kali dalam setahun, yakni Februari-Agustus dan September-Januari.</p> Prodi Pendidikan Agama Kristen Universitas Kristen Indonesia en-US Regula Fidei 2502-8030 PLURALITAS DAN TANTANGAN MISI: KERANGKA KONSEPTUAL UNTUK PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DALAM MASYARAKAT MAJEMUK http://ejournal.uki.ac.id/index.php/regulafidei/article/view/1321 <p>Abstract:The purpose of this paper is to see plurality and mission as a conceptual framework in Christian religious education. Building pluralism is an appeal to accept pluralism is an order of people who understand each other that in essence they are a unity in diversity. Pluralism is a condition&nbsp; where&nbsp; there&nbsp; are&nbsp; various&nbsp; things.&nbsp; Religious&nbsp; pluralism&nbsp; explain"all&nbsp; religions&nbsp; have&nbsp; the right to exist and live. Socially, we must learn to be tolerant and even respect the faith or beliefs of&nbsp;&nbsp; followers&nbsp;&nbsp; of&nbsp;&nbsp; other&nbsp;&nbsp; religions.&nbsp;&nbsp; Religious&nbsp;&nbsp; communities&nbsp;&nbsp; need&nbsp;&nbsp; to&nbsp;&nbsp; rethink&nbsp;&nbsp; their&nbsp;&nbsp; religious responsibilities to work together, and even in some cases act as agents of God's general grace in promoting&nbsp; peaceful&nbsp; and&nbsp; harmonious&nbsp; coexistence&nbsp; among&nbsp; people&nbsp; of&nbsp; all&nbsp; religions.&nbsp; Inthis&nbsp; shell&nbsp; of plurality andmission, the concept of pluralistic Christian religious educationdeveloped.<br><br>Keywords: Pluralistic, Mission, Christian Religious Education, Plural Society<br><br>Abstrak:Tujuan&nbsp; dari&nbsp; tulisan&nbsp; ini&nbsp; adalah&nbsp; untuk&nbsp; melihat&nbsp; Pluralitas&nbsp; dan&nbsp; misi&nbsp; sebagai&nbsp; kerangka konseptual&nbsp; dalam&nbsp; pendidikan&nbsp; agama&nbsp; Kristen. Membangun&nbsp; pluralisme&nbsp; merupakan&nbsp; imbauan menerima&nbsp; kemajemukan&nbsp; merupakan&nbsp; sebuah&nbsp; tatanan&nbsp; masyarakat&nbsp; yang&nbsp; saling&nbsp; mengerti&nbsp; bahwa pada&nbsp; hakekatnya&nbsp; mereka&nbsp; merupakan&nbsp; kesatuan&nbsp; dalam&nbsp; kepelbagaian.&nbsp; Pluralisme&nbsp; adalah&nbsp; suatu kondisi&nbsp; dimana&nbsp; adanya&nbsp; keberadaan&nbsp; sesuatu&nbsp; yang&nbsp; beragam.&nbsp; Pluralisme agama berarti ”semua agama berhak untuk ada dan hidup”. Secara sosial, kita harus belajar untuk toleran dan bahkan menghormati&nbsp; iman&nbsp; atau&nbsp; kepercayaan&nbsp; dari&nbsp; penganut&nbsp; agama&nbsp; lainnya. Komunitas&nbsp; agama&nbsp; perlu memikirkan&nbsp; kembali&nbsp; tanggung&nbsp; jawab&nbsp; agamanya&nbsp; untuk&nbsp; bekerja&nbsp; sama,&nbsp; dan&nbsp; bahkan&nbsp; dalam beberapa&nbsp; hal&nbsp; bertindak&nbsp; sebagaiagen&nbsp; rahmat&nbsp; umum&nbsp; Tuhan&nbsp; dalam&nbsp; mempromosikan&nbsp; hidup berdampingan secara damai dan harmonis di antara orang-orang dari semua agama.Dalam kerang&nbsp;&nbsp; pluralitas&nbsp;&nbsp; dan&nbsp;&nbsp; misi&nbsp;&nbsp; inilah,&nbsp;&nbsp; konsep&nbsp;&nbsp; pendidikan&nbsp;&nbsp; agama&nbsp;&nbsp; Kristen&nbsp;&nbsp; yang&nbsp;&nbsp; majemuk dikembangkan.<br><br>Kata Kunci:Pluralitas, Misi, Pendidikan Agama Kristen, Masyarakat Majemuk</p> Fransiskus Irwan Widjaja Copyright (c) 2019 Regula Fidei 2019-03-01 2019-03-01 4 1 605 – 621 605 – 621 10.33541/jrfvol1iss1pp115 PENDEKATAN HORST DIETRICH PREUSS DAN GERHARD VON RAD DALAM METODOLOGI TEOLOGI PERJANJIAN LAMA http://ejournal.uki.ac.id/index.php/regulafidei/article/view/1323 <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;<strong><em>Abstract</em></strong><strong><em>: </em></strong><em>The purposed of writing this article is to look at the approaches used by Horst Dietrich Preuss and Gerhard von Rad in Old Testament Theology. Choosing one method of approach in Old Testament Theology is a must. In his approach, Horst Dietrich Preuss chose a systematic and structured theology. The method of approach used in this paper is to study the methodology of Old Testament Theology Gerhard von Rad and after that analyze the methodology of Old Testament Theology Horst Dietrich Preuss based on the Old Testament Theology Book. Volume 1, Kentucky: Westminster John Knox Press, 2007. Systematically structured descriptions can show and see the overall picture of both the Old and New Testaments, and are more conducive to hermeneutical ventures. Preuss accepts historical criticism as conveyed by von Rad. Preus also paid attention to the element of coherence between the Old Testament and the New Testament, because both the theology of the Old Testament and the Theology of the New Testament must be the basis of Christian theology. Old Testament theology must surely help in answering theological questions; it must also consider the entire spectrum of theology in forming its own description, and clarify the place of the Old Testament in comprehensive theology. Thus, Preuss is moderate with assumptions, Preuss is towards a canonical multiplex approach. Not only looking at the historical side but also the context both in application and contemporary theological debate.</em></p> <p><strong><em>Keywords</em></strong>: <em>Horst Dietrich Preuss, Gerhard von Rad, Methodologi of the Old Testament Theology</em></p> <p><strong><em>Abstrak</em></strong><strong><em>: </em></strong><em>Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk melihat pendekatan yang digunakan Horst Dietrich Preuss dan Gerhard von Rad dalam Teologia Perjanjian Lama. Memilih salah satu metode pendekatan dalam Teologia Perjanjian Lama merupakan suatu keharusan. Dalam pendekatannya, Horst Dietrich Preuss memilih teologi yang sistematis dan terstruktur. Metode pendekatan yang digunakan dalam tulisan ini adalah menelaah metodologi Teologia Perjanjian Lama Gerhard von Rad dan setelah itu menganalisis metodologi Teologia Perjanjian Lama Horst Dietrich Preuss berdasarkan Buku Old Testament Theology. Volume 1, Kentucky: Westminster John Knox Press, 2007. Deskripsi terstruktur secara sistematis dapat memperlihatkan dan melihat gambaran secara keseluruhan baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, serta lebih kondusif bagi usaha hermeneutis. Preuss menerima kritik historis seperti yang disampaikan von Rad. Preus juga memperhatikan unsur koherensitas antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, sebab keduanya, teologi Perjanjian Lama dan Teologi Perjanjian Baru harus menjadi dasar teologi Kristen. Teologi Perjanjian Lama pasti harus membantu dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan teologis; juga harus mempertimbangkan keseluruhan spektrum teologi dalam pembentukan deskripsi sendiri, dan mengklarifikasi tempat Perjanjian Lama dalam teologi yang komprehensif. Dengan demikian, Preuss moderat dengan asumsi, Preuss ke arah pendekatan multipleks kanonik. Tidak hanya melihat sisi historisnya saja melainkan juga konteksnya baik dalam penerapan maupun perdebatan teologis kontemporer</em></p> <p><strong>Kata Kunci: </strong><em>Horst Dietrich Preuss, Gerhard von Rad, Metodologi Teologi Perjanjian Lama</em></p> Noh Ibrahim Boiliu Copyright (c) 2019 Regula Fidei 2019-03-01 2019-03-01 4 1 622 – 635 622 – 635 10.33541/jrfvol1iss1pp115 OPAT MAPAISA SEBAGAI BENTUK PEMBINAAN BAGI MASYARAKAT POLEN DAN IMPLIKASI BAGI PELAYANAN GEREJA http://ejournal.uki.ac.id/index.php/regulafidei/article/view/1325 <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;<strong><em>Abstract: </em></strong><em>The objectives achieved from this research are: to find out how the procedure for mapaisa opat, to find out the reason for the affair fines are still maintained in Pollen, to know mapaisa opat as a form of formation, and to know mapaisa opat in church services. Then the research results obtained, namely: Implementation of customary fines are seen as a form of guidance for the community. The form of coaching is that every person found having an affair is required to pay a fine according to the agreement. Determination and provision of fines as a form of education or guidance so that people do not repeat their actions. Determination of fines with the aim of people afraid and not having an affair again promise and repent. The important aspects of customary fines include; religious aspects, it seems that in this aspect there is confession and repentance; social aspects, looks forgiveness and restoration of good name; then the pedagogical aspect, this aspect appears in the change of attitude and the perpetrator promises not to repeat the act of adultery; and finally the juridical aspect arises in the implementation of the opat mapaisa because it is a feared law and takes people on a good path. Customary fines have an important role in society and the church. Customary fines in the service of the Church serve as a forum for guidance for those who make mistakes. Fines are there, to reduce infidelity and educate people on the truth </em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>Keywords: </em></strong><em>Opat Mapaisa, Communit, Church Services</em></p> <p><strong><em>Abstrak: </em></strong><em>Tujuan yang dicapai dari penelitian ini adalah: untuk mengetahui bagaimana tata cara opat mapaisa, mengetahui alasan denda perselingkuhan masih tetap dipertahankan di Polen, mengetahui opat mapaisa sebagai bentuk pembinaan, dan untuk mengetahui opat mapaisa dalam pelayanan jemaat. Maka hasil penelitian yang diperoleh, yakni: Pelaksanaan denda adat dilihat sebagai bentuk pembinaan bagi masyarakat. Bentuk pembinaannya adalah bahwa setiap orang yang kedapatan berselingkuh diharuskan membayar denda sesuai kesepakatan. Penetapan dan pemberian denda sebagai bentuk didikan atau pembinaan supaya orang tidak mengulangi perbuatannya. Penentuan denda dengan tujuan orang takut dan tidak berselingkuh lagi berjanji dan bertobat. Adapun aspek-aspek penting dalam denda adat di antaranya; aspek religius, nampak dalam aspek ini adanya pengakuan dosa dan pertobatan; aspek sosial, terlihat pengampunan dan pemulihan nama baik; selanjutnya aspek paedagogis, aspek ini nampak dalam perubahan sikap dan pelaku berjanji tidak mengulangi perbuatan perselingkuhan; dan yang terakhir aspek yuridis muncul dalam pelaksanaan opat mapaisa karena bersifat hukum yang ditakuti serta membawa manusia pada jalan yang baik. Denda adat memiliki peranan penting dalam masyarakat maupun gereja. Denda adat dalam pelayanan Jemaat dijadikan sebagai wadah pembinaan bagi jemaat yang melakukan kesalahan. Denda ada, untuk mengurangi perselingkuhan serta mendidik orang pada kebenaran </em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Kata Kunci : </strong><em>Opat Mapaisa, Masyaraka, Pelayanan Gereja</em></p> Harun Y. Natonis Maglon F. Banamtuan Copyright (c) 2019 Regula Fidei 2019-03-01 2019-03-01 4 1 636 657 10.33541/jrfvol1iss1pp115 PENDIDIKAN KARAKTER DALAM KOTBAH DI BUKIT BERDASARKAN MATIUS 5:3-5 http://ejournal.uki.ac.id/index.php/regulafidei/article/view/1326 <p><strong><em>Abstract</em></strong><strong><em>: </em></strong><em>The background of the problem in this study is the occurrence of changes in the current generation due to mass media that change the mindsets, behavior, and habits of today's youth, accompanied by education that tends to be based on knowledge or cognitive. All this will result in humans not being human. Thus, character education offered by Jesus in happy speech at the Sermon on the Mount is character-based education centered on the imitation of Christ, which is to follow in the footsteps or steps of Christ in the lives of Indonesian Christian students. This framework of thought or world view is what Christian Character education is. Thus, this research will use a synchronous method that is to exegete what is said in the text of Matthew 5: 3-5 </em></p> <p><strong><em>Keywords</em></strong>: <em>Education, Character, Sermon in the Hill</em></p> <p>&nbsp;<strong><em>Abstrak</em></strong><strong><em>: </em></strong><em>perubahan dalam generasi zaman ini akibat media massa yang mengubah pola pikir, perilaku, maupun kebiasaan pemuda zaman sekarang, disertai pendidikan yang kecenderungannya berbasiskan pengetahuan atau kognitif. Semua ini akan mengakibatkan manusia tidak menjadi manusiawi. Maka, pendidikan karakter ditawarkan oleh Yesus dalam ucapan bahagia di Kotbah di Bukit merupakan pendidikan berbasiskan karakter yang berpusatkan pada imitasi Kristus, yaitu mengikuti jejak atau langkah Kristus dalam kehidupan mahasiswa/i Kristen Indonesia. Kerangka berpikir atau world view inilah yang menjadi pendidikan Karakter Kristen. Dengan demikian, penelitian ini akan mengunakan metode sinkronik yaitu mengeksegese apa yang dikatakan dalam teks Matius 5:3-5</em></p> <p><strong>Kata Kunci: </strong><em>Pendidikan, Karakter, Kotbah di Bukit</em></p> Aeron Frior Sihombing Copyright (c) 2019 Regula Fidei 2019-03-01 2019-03-01 4 1 658 – 672 658 – 672 10.33541/jrfvol1iss1pp115 FILSAFAT PENDIDIKAN DRIYARKARA DALAM MENJAWAB TANTANGAN ERA INDUSTRI 4.0 http://ejournal.uki.ac.id/index.php/regulafidei/article/view/1327 <p><strong><em>Abstract</em></strong><strong><em>: </em></strong><em>There are so many challenges faced in the world of education in the era of industrial revolution 4.0. In answering this, the writer made an article that use literature study methods from several literatures with content analysis studies. In the article the author emphasizes that educators must restore the essence of an education. As offered by Driyarkara in his thoughts and integrated with the philosophy of humanism education. The main actors in education are parents and children. The essence of an education is the inculcation of religious values and morals. The educational values conveyed by Driyarkara are basic education which consists of parents and children. The task of parents as educators is to accompany children to become mature humans. Children learn to become adults by learning directly and actively. Thus, children will realize the benefits of learning itself. In the process there must still be discipline and the implementation of values</em></p> <p><strong><em>Keywords</em></strong>: <em>Industrial Revolution 4.0, Philosophy of Education</em></p> <p><strong><em>Abstrak</em></strong><strong><em>: </em></strong><em>Ada begitu banyak tantangan yang dihadapi dalam dunia pendidikan di era revolusi industri 4.0. Dalam tulisan ini, penulis berusaha menjawab tantangan tersebut dengan metode studi pustaka dari beberapa literatur dengan kajian analisis isi. Dalam artikel penulis menekankan bahwa para pendidik harus mengembalikan esensi dari sebuah pendidikan. Seperti yang ditawarkan oleh Driyakara dalam pemikirannya dan dipadukan dengan filsafat pendidikan humanism. Pelaku dalam pendidikan yang utama adalah orangtua dan anak. Esensi dari sebuah pendidikan adalah penanaman nilai-nilai dan moral keagamaan. Nilai-nilai pendidikan yang disampaikan oleh Driyarkara adalah pendidikan mendasar yang didalamnya terdiri dari orangtua dan anak. Tugas orangtua sebagai pendidik adalah mendampingi anak agar menjadi manusia yang dewasa. Anak belajar menjadi manusia dewasa dengan belajar secara langsung dan aktif. Dengan demikian, anak akan menyadari manfaat dari belajar itu sendiri. Dalam prosesnya harus tetap ada pendisiplinan dan pelaksanaan nilai-nilai</em></p> <p><strong>Kata Kunci: </strong><em>Revolusi Industri 4.0, Filsafat Pendidikan</em></p> Eustalia Wigunawati Copyright (c) 2019 Regula Fidei 2019-03-01 2019-03-01 4 1 673 – 686 673 – 686 10.33541/jrfvol1iss1pp115 METODE PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN (PAK) UNTUK KELOMPOK DISABILITAS http://ejournal.uki.ac.id/index.php/regulafidei/article/view/1329 <p><strong><em>Abstract</em></strong><strong><em>: </em></strong><em>The purpose of this writing is to provide an understanding that the Church was born and has grown cannot be separated from its essence to serve others as stated in the Three Pillars of the Church in the sense the Church is able to answer the struggles faced by people. One of the is how children with disabilities face various forms of exclusion and that affects them at various levels depending on the type of disability they experience, the environment where they live and culture as well as their social class. The Church, as the place where Christian Religious Education (PAK) being taught, is a bridge to bring people, including the disabled, to relish the work of God’s salvation. In this case, a teaching method is needed for disabled people that cannot be separated from how the community views people with disability.</em></p> <p><strong><em>Keywords</em></strong>: <em>Teaching, Christian Religious Education, Church, Disability</em></p> <p><strong><em>Abstrak</em></strong><strong><em>: </em></strong><em>Tujuan dari penulisan ini ialah untuk memberikan pengertian bahwa Gereja lahir dan bertumbuh tidak terlepas dari hakekatnya untuk melayani sesama yang tertuang dalam dalam Tri Darma Gereja dalam arti Gereja mampu menjawab pergumulan yang sedang dihadapi oleh manusia. Salah satu diantaranya ialah bagaimana dengan anak-anak penyandang disabilitas dalam menghadapi berbagai bentuk pengucilan dan itu mempengaruhi mereka dalam berbagai tingkatan tergantung dari jenis disabilitas yang mereka alami, di mana mereka tinggal dan budaya serta kelas sosial mereka. Gereja dalam tempat pelaksanaan pembelajaran PAK menjadi jembatan untuk membawa umat termasuk kaum disabilitas menikmati karya keselamatan Allah. Dalam hal ini diperlukan sebuah metode pembelajaran bagi penyandang disabilitas yang tidak lepas dari bagaimana masyarakat memandang penyandang disabilitas.</em></p> <p><strong>Kata Kunci: </strong><em>Pembelajaran, Pendidikan Agama Kristen, Gereja, Disabilitas</em></p> Solmeriana Sinaga Copyright (c) 2019 Regula Fidei 2019-03-01 2019-03-01 4 1 687 – 705 687 – 705 10.33541/jrfvol1iss1pp115