OPAT MAPAISA SEBAGAI BENTUK PEMBINAAN BAGI MASYARAKAT POLEN DAN IMPLIKASI BAGI PELAYANAN GEREJA

  • Harun Y. Natonis Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri Kupang
  • Maglon F. Banamtuan Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri Kupang

Abstract

 

 Abstract: The objectives achieved from this research are: to find out how the procedure for mapaisa opat, to find out the reason for the affair fines are still maintained in Pollen, to know mapaisa opat as a form of formation, and to know mapaisa opat in church services. Then the research results obtained, namely: Implementation of customary fines are seen as a form of guidance for the community. The form of coaching is that every person found having an affair is required to pay a fine according to the agreement. Determination and provision of fines as a form of education or guidance so that people do not repeat their actions. Determination of fines with the aim of people afraid and not having an affair again promise and repent. The important aspects of customary fines include; religious aspects, it seems that in this aspect there is confession and repentance; social aspects, looks forgiveness and restoration of good name; then the pedagogical aspect, this aspect appears in the change of attitude and the perpetrator promises not to repeat the act of adultery; and finally the juridical aspect arises in the implementation of the opat mapaisa because it is a feared law and takes people on a good path. Customary fines have an important role in society and the church. Customary fines in the service of the Church serve as a forum for guidance for those who make mistakes. Fines are there, to reduce infidelity and educate people on the truth

 

Keywords: Opat Mapaisa, Communit, Church Services

Abstrak: Tujuan yang dicapai dari penelitian ini adalah: untuk mengetahui bagaimana tata cara opat mapaisa, mengetahui alasan denda perselingkuhan masih tetap dipertahankan di Polen, mengetahui opat mapaisa sebagai bentuk pembinaan, dan untuk mengetahui opat mapaisa dalam pelayanan jemaat. Maka hasil penelitian yang diperoleh, yakni: Pelaksanaan denda adat dilihat sebagai bentuk pembinaan bagi masyarakat. Bentuk pembinaannya adalah bahwa setiap orang yang kedapatan berselingkuh diharuskan membayar denda sesuai kesepakatan. Penetapan dan pemberian denda sebagai bentuk didikan atau pembinaan supaya orang tidak mengulangi perbuatannya. Penentuan denda dengan tujuan orang takut dan tidak berselingkuh lagi berjanji dan bertobat. Adapun aspek-aspek penting dalam denda adat di antaranya; aspek religius, nampak dalam aspek ini adanya pengakuan dosa dan pertobatan; aspek sosial, terlihat pengampunan dan pemulihan nama baik; selanjutnya aspek paedagogis, aspek ini nampak dalam perubahan sikap dan pelaku berjanji tidak mengulangi perbuatan perselingkuhan; dan yang terakhir aspek yuridis muncul dalam pelaksanaan opat mapaisa karena bersifat hukum yang ditakuti serta membawa manusia pada jalan yang baik. Denda adat memiliki peranan penting dalam masyarakat maupun gereja. Denda adat dalam pelayanan Jemaat dijadikan sebagai wadah pembinaan bagi jemaat yang melakukan kesalahan. Denda ada, untuk mengurangi perselingkuhan serta mendidik orang pada kebenaran

 

Kata Kunci : Opat Mapaisa, Masyaraka, Pelayanan Gereja

Published
2019-03-01
Section
Articles